Selasa, 30 Maret 2010

MIMPI YANG SEMPURNA

Seringkali aku merasa bahagia berada di alam mimpi, atau bahkan aku menjalani hidup ini dengan setengah bermimpi, sebab sering aku mendengar kata orang-orang "bermimpilah sesuka kamu karena mimpi tidak bayar atau gratis ", so........puas-puasin deh bermimpi. terdengar amat sangat membuai membuat kita lupa akan dunia nyata, jujur saja aku sendiri paling senang berkutat di alam yang satu ini, sebab mimpi itu indah dan menyenangkan.

Awal kisah yang aku tulis ini juga karena sebuah mimpi :

Ketika aku nyuapin sarapan nasi uduk pada anak-anak aku, mereka mulai berceloteh, celotehan khas anak-anak. Kadang aku menimpali celotehan mereka, tentu saja hanya sekedar untuk memperkuat celotehan mereka, tanpa aku bermaksud mengarahkan celotehan mereka.

" Ayah...., kalau aku rajin berlatih Karate, aku akan bisa dikirim keluar negeri kan?" tanya Putra bungsuku.
"O....sudah pasti, tapi sebelum kamu keluar negeri, kamu harus rajin berlatih dan juga bisa menjadi juara Se-Jakarta Utara, Juara se-DKI, juara Nasional, nah baru kamu bisa dikirim keluar negeri " jawabku mantap
" Yah...Aayah, ini bukan sekedar mimpi lho" putriku menimpali
" Aku, dedek, mau buat Ayah dan Mama bangga pada kami " lanjut putriku sambil membetulkan ikatan rambutnya.

Seketika padanganku nanar, aku sungguh terharu, bahkan aku hampir-hampir menitikan air mata mendengar kata-kata itu. Sungguh mimpi mereka adalah sebuah tantangan besar, sebuah tantangan untuk diriku sebagai orang tuanya guna mewunjudkan impian mereka. Tentu saja ada beberapa faktor untuk mewujudkan ini semua, seperti kuatnya niat dan tekad anak aku ,t ak boleh juga dipandang sebelah mata. Yang pasti aku harus me support habis-habisan pada meraka untuk dapat mewujudkan impiannya.

" Semua itu tidak mudah nak, semua butuh usaha yang sangat keras " sahutku pelan.

" Tadi Ayah sudah bilang sama dedek, harus benar-benar dalam latihan Karate dan juga harus melewati beberapa tahap, jadi penguasa di Gelangang, Monas, Senayan, baru bisa keluar Negeri " lanjutku

" Ayah dan Mama akan bangga, bila semua itu benar terjadi" pesanku pada kedua anakku.

"Ayah...lihat aku, aku sudah hafal semua gerakan " teriak putraku sambil mempraktekan beberapa gerakan dalam Karate.
" Ok, tapi pesan Ayah, kamu tidak boleh sombong, ingat sumpah Karate yang kelima, harus bisa menguasai diri, nah........nak, itu jam sudah berdering, tanda kalian harus segera berangkat sekolah" sahutku . Bersamaan dengan itu terdengar dentang 6 kali dari jam dinding di ruang tamu, pertanda waktu menunjukan jam 06.00WIB.

Aku segera bergegas mengemasi alat-alat tulis kedua anak ku, sambil terus mengemasi alat tulis , aku merasa ada sesuatu dalam diriku yang seolah-olah terluka. Aku merasa sangat berdosa apabila tidak dapat mewujudkan impian mereka, suara batinku berulang-ulang. Impian yang murni yang keluar dari alam bawah sadar anak-anak, impian yang begitu murni polos, yang belum terkontaminasi dengan hal-hal yang mengotori pemikiran mereka.

Setelah aku antarkan mereka bersekolah, aku kembali dengan pikiranku, tapi kali ini aku ditemani secangkir kopi hitam dan beberapa potong kue...
Pertanyaan besar masih bergelayut dibenakku, akan mampukah aku.????
Entah......

Tanjung Priok, 30 Maret 2010


0 komentar: