Lembayung langit barat bertanda malam sebentar lagi kan datang, selimut gelapnya akan menutup jagat raya, betapa indahnya langit disebelah barat disinari sang surya yang sebentar lagi akan masuk dalam peraduannya. Merah merona penuh makna....
Aku masih menelusuri jalan-jalan Ibu kota, berpacu dengan waktu, bahkan aku tak menghiraukan indahnya langit maha karya Sang Khalik, hanya satu yang aku pikirkan berharap cepat sampai di rumah dan kembali di tengah-tengah keluarga. Kira-kira pukul 17.50WIB sampai sudah aku dirumah berbarengan dengan itu terdengar kumandang azan mahgrib dari masjid yang tak jauh dari rumahku. Segelas teh manis hangat menyambutku, mencairkan seluruh pikiranku dan juga membatalkan puasa sunahku. Dalam otakku tercekat, kembali aku harus mengakui teh manis bikinan istriku luar biasa nikmatnya, luar biasa disetiap hari Senin dan Kamis, sepertinya ada sebua kerinduan tersendiri, untuk menikmati teh manis buatan istriku, kalau dibilang tehnya lain nggak juga karena tehnya merek sama, gulanya juga sama, atau mungkin keikhlasan dan ketulusan yang menyertainya sehingga membuat nikmat luar biasa. Ah...apa-apaan pikiranku jadinya malah lari kemana-mana, bergegas aku ambil sajadah menuju masjid untuk menunaikan sholat magrib berjama'ah.
Sepulang dari masjid aku lihat di meja makan telah tersedia makanan untuk buka puasa, aku lirik menu yang tersaji malam itu cukup mengoda selera. Ehmmm......sebentar ya, segera aku bantai ni menu favorit aku.
"Yah....setelah naik-naikan sekolah, kita pindah kan yah?" sapa lirih istriku, duduk disampingku menemani aku berbuka puasa.
"Ehhmmm....Insya Allah" sahutku sekenanya
"Nanti kalau kelamaan kasihan anak-anak, dan juga rumah akan rusak kalau nggak segera ditempati" kembali istriku berbicara seolah mau menerangkan sekaligus reaksi akan jawabanku yang seolah tidak serius.
"Pindah itu perlu biaya mama, untuk saat ini ayah belum dapat memenuhi semua itu, lagi pula kalau pindah tidak diperhitungkan dengan matang, nanti akan menyesal lho" sahutku pelan
" Terus kapan?" istriku mulai merajuk, raut mukanya mulai berubah
"Insya Allah dalam waktu dekat, mama nggak usah ikut mikir, biar ayah usahakan dulu" jawabku sambil aku pandang kedua mata istriku.
Sampai disini kami berdua terdiam, aku kembali focus pada pada menu makanan untuk berbuka. Aku lirik istrikupun kembali menikmati makanannya. Sudah menjadi rencana aku dan istriku bahwa tahun ini aku mau menempati gubuk kecil yang berhasil kami beli, aku bisa beli gubuk kecil dari hasil menabung, sen per sen aku kumpulkan, untuk mewujudkan impian kami memeiliki gubuk sendiri. Alhamdullilah semua terwujud namun untuk segera pindah rasanya amat sangat berat. Aku sudah lama tinggal di Warakas dan anak-anakku pun lahir disini, secara sosiologis mereka telah menyatu dengan kehidupan anak-anak di Warakas.
Beri aku waktu......
Sepulang dari masjid aku lihat di meja makan telah tersedia makanan untuk buka puasa, aku lirik menu yang tersaji malam itu cukup mengoda selera. Ehmmm......sebentar ya, segera aku bantai ni menu favorit aku.
"Yah....setelah naik-naikan sekolah, kita pindah kan yah?" sapa lirih istriku, duduk disampingku menemani aku berbuka puasa.
"Ehhmmm....Insya Allah" sahutku sekenanya
"Nanti kalau kelamaan kasihan anak-anak, dan juga rumah akan rusak kalau nggak segera ditempati" kembali istriku berbicara seolah mau menerangkan sekaligus reaksi akan jawabanku yang seolah tidak serius.
"Pindah itu perlu biaya mama, untuk saat ini ayah belum dapat memenuhi semua itu, lagi pula kalau pindah tidak diperhitungkan dengan matang, nanti akan menyesal lho" sahutku pelan
" Terus kapan?" istriku mulai merajuk, raut mukanya mulai berubah
"Insya Allah dalam waktu dekat, mama nggak usah ikut mikir, biar ayah usahakan dulu" jawabku sambil aku pandang kedua mata istriku.
Sampai disini kami berdua terdiam, aku kembali focus pada pada menu makanan untuk berbuka. Aku lirik istrikupun kembali menikmati makanannya. Sudah menjadi rencana aku dan istriku bahwa tahun ini aku mau menempati gubuk kecil yang berhasil kami beli, aku bisa beli gubuk kecil dari hasil menabung, sen per sen aku kumpulkan, untuk mewujudkan impian kami memeiliki gubuk sendiri. Alhamdullilah semua terwujud namun untuk segera pindah rasanya amat sangat berat. Aku sudah lama tinggal di Warakas dan anak-anakku pun lahir disini, secara sosiologis mereka telah menyatu dengan kehidupan anak-anak di Warakas.
Beri aku waktu......

0 komentar:
Poskan Komentar